Kamis, 20 Desember 2007

Amerika sejak lama memang meminggirkan gender perempuannya, dengan bekerjasamanya Marvel mengadopsi gaya feminim manga, maka dipastikan akan terjadi perubahan selera pasar dari pihak perempuan penggemar komik.
Nyaris tidak ada komikus perempuan yang muncul di Wizard, misalnya, sehingga Trina Robins harus bersusah payah mencetuskan fenomena Women Comic Artists.
dan mungkin kali ini Trina harus bekerja keras kembali memahami 'dunia komik wanita' yg lebih bebas dari dominasi dan determinasi kaum pria. Wolverine yang di 'mangafied' akan menjadi Wolvie yang maniz: "Wuuf.. wuff... rrr.. rauff!"
http://pwbeat.publishersweekly.com/blog/2007/12/10/marvel-and-del-rey-announce-manga-pact/

Senin, 10 Desember 2007

Sesuatu tentang Cergam untuk Memahami Komik...01

Perkembangan sebuah budaya tidak terlepas begitu saja dari perjalanan sejarah kebudayaan itu sendiri, dan kejayaan di masa lalu hanya akan tercatat abadi dalam data sejarah atau ingatan kolektif sekelompok masyarakat atau kenangan pribadi seseorang. Manusia menyeleksi mana yang dibutuhkannya dan mana yang tidak, dan komik ternyata sejak kelahirannya beberapa dekade yang lalu hingga saat ini masih terlihat sebagai materi bacaan yang dibutuhkan. Konsepsi komik itu sendiri disinyalir oleh Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), penulis Faust dari Jerman yang terkenal itu, sebagai perekat budaya kosmopolitan manakala ia berkesempatan memperhatikan cerita-bergambar Histoire de Mr. Vieux Bois, buah karya dari seorang pakar pendidikan Swiss yang juga seniman bernama Rodolphe Töppfer (1766-1847). Cerita bergambar atau komik atau yang disebut Töppfer dengan printed literature mempunyai pengertian bahwa sebuah sastra yang dicetak adalah menulis cerita dengan gambaran grafis:
"You can write stories with chapters, lines, words: that's the actual literature. You can write stories with a succession of graphic scenes: that's printed literature. You can also do neither one nor the other, and sometimes that's the best!"

Sebelum konsep komik hadir, orang-orang sudah mengenal terlebih dulu sebutan kartun dan karikatur. Pengertian kartun sebenarnya berasal dari seni, etimologi yg datang dari bahasa italia ‘Cartone’ artinya kertas. Ia merupakan gambaran kasar atau sketsa awal dalam kanvas besar. (Setiawan 2002). Kartun memang pada akhirnya menjadi lebih dikenal sebagai gambar dengan cerita yang lucu-lucu dan menyindir halus (meski kadang keras), tapi kadangkala kita sering salah kaprah dalam menggunakan istilah kartun untuk menyebutkan film animasi sebagai film ‘kartun’ seperti Disney, Donal Bebek dan Miki Tikus, Tom dan Jerry. Jadi, kartun juga dikonotasikan dengan kelucuan atau ‘funny’. Yang lucu-lucu ini akhirnya dekat dengan komik, karena comics arti mendasarnya pun ‘lucu’ karena asumsi awal kelahiran komik di Amerika adalah publikasi periodik seperti suratkabar New York World (1896) di bagian ‘funniest pages’ yaitu halaman-halaman yang memuat kartun-kartun lucu. Menurut Havet (1987) kartun dapat dipertimbangkan sebagai bentuk dari komunikasi massa yang menyampaikan pesan-pesan tertentu (Mahamood 2004). Lebih lanjut diungkapkan oleh Mahamood bahwasannya secara umum kartun diklasifikasikan sebagai bentuk karya dari sebuah subjek yang di lebih-lebihkan (exageratted) dan pemiuhan (distortion) untuk tujuan satir dan hiburan. Kartun berkembang didalam masyarakat, seniman memanfaatkannya untuk merekam, mengkritisi atau mengomentari kejadian, issu dan personalitas tertentu. Karena itu biasanya kartun merefleksikan atau mengilustrasikan beragam aspek budaya dari masyarakat yg membentuknya. Sementara itu ‘karikatur’ lebih gampangnya dipahami sebagai gambar atau lukisan dengan muatan lebih pada seorang karakter yang di kenal, distrosi dan eksegarasi menjadi kata kuncinya, dan muatan pesan tertentu di dalamnya jangan sampai dilupakan. Menurut Noerhadi (1989) konsep kartun dipisahkan dengan karikatur berdasarkan sifat kartun dengan tokohnya yang bersifat fiktif untuk menyajikan komedi-komedi sosial serta visualisasi jenaka, sedangkan karikatur melalui pemiuhan (distorsi) tokoh-tokoh tiruan tertentu untuk memberi persepsi tertentu pada pembaca (Wijana 2004).

Komik Indonesia sebagai sebuah budaya pop pernah berjaya di masa lalu. Sayangnya, manakala sekarang kita membicarakan komik buatan Indonesia umumnya dan komik buatan Medan secara khususnya, maka dapat kita saksikan telah menghilangnya bekas-bekas kejayaan komikus-komikus Medan semisal Taguan Hardjo, Djas dan Zam Nuldyen, untuk menyebut beberapa nama sebagai contoh. Ketika kecil penulis masih sempat menikmati komik-komik Indonesia jaman dulu melalui peminjaman di taman bacaan-taman bacaan, namun sejak komik-komik terjemahan dari Jepang dan Hongkong membanjiri pasar lokal, maka koleksi komik buatan Indonesia di taman bacaan perlahan tapi pasti tergeser sudah. Meskipun saat ini adalah kejayaan zaman visual dimana komik merupakan salah satu bentuk media paling populer dan pervasif, namun dewi keberuntungan belum banyak berpihak memberi kesuksesan pada karya-karya komikus buatan Indonesia sendiri.
Komik Indonesia sebelumnya sempat populer dengan istilah ‘cergam’ yang seyogyanya dikenal sebagai singkatan dari cerita bergambar. Kononnya menurut Arswendo Atmowiloto (1986), seorang pemerhati komik, adalah salah seorang komikus Medan bernama Zam Nudlyen yang mencetuskan penyebutan akronim ‘cergam’ bagi memperhalus makna komik yang sempat terkonotasi dengan unsur-unsur negatif seperti kekerasan dan pornografi. Sementara komikus di era 1950-an hingga 1970-an masih menyukai istilah ini, sebelum akhirnya sekarang sebutan ‘cergam’ menjadi citra yang terasa usang dan dilupakan oleh masyarakat kita yang kini terbiasa menyebut ‘komik’ istilah yang diadopsi dari bahasa Inggris (comic). Dahulu akronim ‘Cergam’ itu menurut Marcell Boneff (1972) ialah mengikuti/ meniru istilah cerpen (cerita pendek) yang sudah lebih biasa digunakan, dan konotasi cergam menjadi lebih bagus, meski terlepas dari masalah tepat tidaknya dari segi kebahasaan atau etimologis kata-nya. Mengenai dimana, kapan, dan bagaimana akhirnya istilah cergam bisa meluas dan diterima, masih diperlukan penelitian historis yang lebih mendalam.
Cergam, sebagaimana komik yang lebih renyah penyebutannya di lidah dan rahang mulut pembaca sekarang ini, tidak terlepas daripada `gambar' dan `cerita'. Selalunya cerita dikaitkan dengan bentuk `tekstual', karena itu argumen komik adalah gambar yang bercerita tentu benar belaka. Tetapi menilik kembali pada kelahiran komik, maka adanya teks dan gambar pada komik secara bersamaan dinilai oleh Francis Laccasin (1971), salah seorang budayawan Perancis pemerhati komik dinyatakan sebagai sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal. Kehadiran teks bukan lagi suatu keharusan karena ada unsur `strip' atau `sekuens' yang boleh dipertimbangkan sebagai jati diri komik lainnya, atau unsur `sekuensial' yang mengikuti dan membentuk narasi cerita. Di dalam komik selalu ada unsur narasi atau penuturan, teks cerita dapat hadir di antara penceritaan gambar-gambar yang berkesinambungan. Tetapi cerita tidak harus selalu hadir tekstual berupa tulisan-tulisan yang bercerita (bertutur). Karena itu istilah komik klasik indonesia yaitu Cergam, cerita bergambar, cerita visual tak lagi harus dipingitkan dengan teks tertulis (verbal), tapi didekatkan kepada narasi atau bercerita, dalam pahaman Eisner disebutlah graphic narration (film dan komik). Cergam atau komik menurut McLuhanian dianggap sebagai media ‘dingin’ yang membutuhkan partisipasi aktif yang relatif bertingkat-tingkat dari pembacanya. Istilah ‘cergam’ menurut sebagian orang tidaklah perlu diangkat ungkit kembali, tetapi sebagai sebuah olah kreatifitas di Indonesia perlu dicatat dalam sejarah, dan ada baiknya tidak dilupakan begitu saja, karena meski hanya sebuah istilah kecil yang tampak tidak begitu berarti, tetapi tetaplah ia merupakan khazanah intelektual yang pernah disumbangkan oleh cergamis atau komikus Indonesia.
Ada pernyataan menarik dari Prof. Makino dari Dept. Komik Universitas Kyoto Seika, sebagaimana dikutip dalam buku Martabak Keliling Komik Dunia, berkaitan dengan komik dan animasi jepang bahwa,"… yang kami buat adalah gambaran kebiasaan dan budaya kami apa adanya." Ungkapan ini dalam tafsiran penulis, menunjukkan bagaimana komik dan animasi Jepang membangun dan mencapai orisinalitas seniman-senimannya dalam berkarya. Dalam ungkapan singkatnya itu, sang professor nampaknya merujuk komik dan animasi sebagai gambaran mentalitas bangsa Jepang sebagai sebuah bentuk kajian sosio-kultural.
Dua tafsiran tersebut di atas, orisinalitas atau keaslian dan gambaran mentalitas itulah yang membuat Marceel Boneff tertarik meneliti komik Indonesia selama lebih kurang 7 tahun. Sebagaimana ia ungkapkan dalam pendahuluan disertasinya, bahwa ia memilih komik di indonesia sebagai pokok kajian dari sudut sosiologis dan psikologis adalah karena :
1) keasliannya yang begitu penting
2) memahami mentalitas bangsa indonesia
Meskipun dahulu komik-komik indonesia tidak berhasil menembus toko-toko buku besar, tetapi khazanah yang terlahir cukup produktif dan layak menjadi kajian walau sedikit sekali komikus-komikus masa dulu menempuh jalur pendidikan formal. Kebalikan yang terjadi sekarang adalah beberapa komik-komik buatan Indonesia cukup berhasil masuk ke toko-toko buku besar, tetapi untuk menjadi sebuah bahan kajian masih perlu lagi diperjuangkan baik dari segi kuantitas dan juga dari segi kualitasnya meskipun kebanyakan komikus-komikus sudah menempuh jalur pendidikan formal. Perjalanan memperjuangkan komik perlu dimulai, masih jauh panggang dari api, api yang ada pun masih dalam sekam yang perlu di kipas-kipas terus.
Sesuatu tentang Cergam untuk Memahami Komik...02

Jepang adalah salah satu raksasa ekonomi Asia yang pengaruh industri perkomikkannya mampu membayangi bahkan melampaui industri perkomikkan dua benua barat, yaitu Amerika dan Eropa. Tradisi komik di Barat membentuk dua pendekatan studi yaitu komik-komik berbahasa Anglo-American (Inggris) dan Franco-Belgian (Perancis). Industri komik Barat dan manga Jepang mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dalam hal produksi. Komik barat seperti yang diterapkan oleh pola industri komik di Amerika Serikat menuntut kerja tim dari penulis cerita dan artis ilustrasi. Ilustrasi sendiri dapat di pecah kepada beberapa bidang kerja seperti pensil, tinta, mewarna, komputer grafis, dan juga penata teks (letterer). Sedangkan pola industri komik Jepang bersifat studio dengan seorang komikus atau mangaka yang dibantu oleh asisten-asistennya. Belakang hari ini komik semakin menjadi perhatian di Eropa yang terkenal dengan perkembangan seninya, dimana komik sudah diakui sejak lama sebagai seni tersendiri. Akhir-akhir ini beberapa seniman komik Eropa, komikus Amerika dan mangaka Jepang mengejar kebaruan dalam hal visualisasi komik seni. Sementara itu di Amerika Serikat komik semakin gencar di jadikan film layar lebar, dan berbagai upaya dilakukan untuk menaik-tarafkan status komik ke tempat yang lebih terhormat. Komik sendiri sudah semakin menjadi subjek penelitian yang menarik perhatian dari berbagai disiplin ilmu seperti bahasa dan sastra, komunikasi, sosiologi, psikologi, budaya dan media. Proses regenerasi komik sepenuhnya bergantung pada dukungan dan profesionalitas dari para artis komiknya dan kreatifitas industrinya.

Cergam memang sudah mati, ia hanyalah sebuah potret nostalgia bayang-bayang kejayaan masa lalu di sudut yang terlupakan. Setelah lama berbagai komik terjemahan dari Amerika dan Eropa beredar, banyak juga yang diimpor langsung dan kemudian masuklah komik-komik silat dan komik jepang (manga) yang teruji oleh pasar sehingga saat ini masih menjadi primadona penerbit dan pembaca komik di Indonesia. Kegairahan anak-anak dan remaja untuk membuat komik kembali tumbuh dengan gencar. Di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, juga kota-kota kecil seperti Malang, Bandung dan Yogyakarta, sedang hangat-hangat kegiatan-kegiatan pameran komik berlangsung sejak tahun 1997-an hingga saat ini. Sayangnya kota Medan yang sempat melahirkan kejayaan komik-komik aliran Medan, tidak serta merta ikut dalam semangat kegairahan yang sama. Pameran-pameran komik yang biasanya diselenggarakan dengan modal semangat oleh para mahasiswa berbagai perguruan tinggi dari beragam jurusan atau program studi, tidaklah begitu terdengar gemanya di kota Medan tercinta ini.
Dalam pameran-pameran komik yang terselenggara di pelbagai daerah di Indonesia dapat disederhanakan pengaruh-pengaruh kutub komik yang kentara datang dari gaya komik yang rasional-realis seperti komik barat dan gaya komik yang emosional-ekspresif seperti manga Jepang, sementara itu dari saudara dekatnya komik yaitu kartun, karakter-karakter kartun dan karikatur masih relatif kuat dengan unsur-unsur lokalitasnya.

Walhasil, reaksi keras karena melihat mimikri para komikus yang cenderung predatori terhadap gaya-gaya komik populer seperti komik Amerika dan manga Jepang datang berhamburan. Ada aksi ada reaksi, maka tentangan balik yang datang dari komikus muda juga sama kerasnya. Kebanyakan komikus muda ini mengeyam pendidikan yang cukup memadai, sebuah kabar yang seharusnya menggembirakan namun sayangnya hal itu tidak berbanding lurus dengan sikap penghargaan mereka pada sejarah komik negeri sendiri. Pandangan atau pendapat yang berupa penolakan terhadap karya-karya komikus muda, umumnya adalah masalah unsur-unsur keindonesiaan yang dinilai kurang diperhatikan. Kritikan stereotip ini sampai sekarang masih merupakan pemicu pelbagai ketegangan dalam diskusi-diskusi tentang ciri komik Indonesia, sehingga sebagian orang mencoba melupakannya, atau menggampangkan saja dengan pendapat semua komik buatan anak Indonesia adalah komik Indonesia.

Memahami komik akan sia-sia kalau hanya melalui artikel-artikel tentang komik seperti yang ditulis ini, karena pemahaman itu perlu melibatkan diri langsung ke tengah-tengah kancah pergumulan dunia komik itu sendiri. Memahami komik adalah sebuah ajakan simbolik bahwa untuk mengapresiasi komik adalah dengan membaca sendiri komik-komik itu. Komik adalah budaya imporan yang masuk melalui budaya penjajah kolonial, yang hingga saat inipun masih mencari legitimasinya di ranah kebudayaan. Sebagian dari kita suka mencari-cari tali tradisi masa lalu untuk dihubung-hubungkan dengan konsepsi komik modern yang kita kenal hari ini.

Perlu disadari bersama, komik adalah sesuatu konsep yang baru bagi bangsa Indonesia, tak ada satupun kultur perkembangan pra-konsepsi komik di Indonesia. Dalam kebudayaan bangsa Indonesia, menurut James Danandjaja (1984) tradisi lisan mengalir sangat kuat dalam kehidupan seperti bahasa rakyat, ungkapan tradisional, teka-teki, sajak dan puisi rakyat, prosa rakyat, cerita dan nyanyian rakyat. Dalam tradisi lukis Indonesia, merujuk pada pandangan Sanento Yuliman (1941-1992) arti lukis sediakalanya mempunyai pengertian yang luas, yaitu kata anglukis (jawa kuna), yang tidak berarti hanya merupa dengan garis dan warna saja tapi termasuk juga pahatan dan ukiran. Lagipula pada dasarnya melukis dianggap adalah menulis (anulis) juga yaitu menarik garis dengan alat runcing. Menulis adalah melukis, komik sebagai sebuah konsep tidak memisahkan antara rezim visual dan rezim literatur, namun tidak pula sebuah komik tergantung pada keberadaan gambar atau teks. Komik dapat berupa gambar saja, dan tidak lepas kemungkinannya untuk diolah hanya menggunakan teks tipografi (desain huruf-huruf) saja. Sebagai contoh penekanan, merujuk pada kumpulan tulisan pemikiran pelukis kaligrafi A.D. Pirous (2003), Menulis itu Melukis, maka tersirat bahwa selain menulis dalam makna literal, menulis juga adalah melukis. Sehingga lukisan kaligrafi sendiri adalah lukisan seni tulisan yang didalamnya antara menulis dan melukis tidak lagi terbedakan.

Tidak adanya alur proses pra-konsepsi komik dari masa lalu sehingga membentuk konsepsi komik modern hari ini, sebagaimana terjadi di Eropa, Amerika dan Jepang, bukan berarti lantas komik tidak layak hidup di negeri kita. Yang diperlukan adalah sebuah kesadaran dan pengakuan bahwa komik merupakan bentuk budaya baru yang diserapkan dalam budaya kontemporer kita. Kekuatan tradisi bercerita kita sangatlah kuat di masa lalu, tetapi bukan pula semangat romantisisme yang dibutuhkan saat ini, namun yang lebih pentingnya adalah upaya untuk memupuk kepercayaan dan harga diri bangsa Indonesia bahwa kita juga mampu menghasilkan karya-karya terbaik. Bahwa kita mampu melepaskan diri dari determinasi kekuatan budaya luar dan membuang jauh-jauh rasa inferioritas ketika berhadapan dengan tradisi asing, walaupun itu hanya melalui budaya dan industri komik.

Dari berbagai pameran komik yang sempat penulis ikuti, terlihat justru komik lokal dibayangi oleh kehilangan kekuatan tematik dari tradisi bercerita itu. Sementara dunia literatur sastrawi dan gerakan seni lukis rupawi di Indonesia berkembang cukup menggembirakan belakang hari ini, rimba perkomikan Indonesia yang masih bergerak merangkak dilingkupi dengan permasalahan banyaknya mimikri atau peniruan baik dari segi visual maupun tematik cerita. Banyak kegiatan komik yang pada akhirnya sebatas menunjukkan eksistensi mengomik atau alasan-alasan lain yang sekedar memanfaatkan medium komik sebagai alihan sarana ekspresi, dan bukan lagi pada gerakan ideologis dan industrialis bagi kebangkitan komik Indonesia.

Baiklah, sekarang mari kita lupakan semua yang sudah diuraikan diatas, buang jauh-jauh semua yang ada di pikiran dan mulailah mengambil pena dan kertas polos. Mualilah membuat komik pertama Anda, tanpa berpikir apa-apa tentang cerita, tentang gaya gambar, tentang ciri, bahkan tentang apa itu komik. Lupakan apa yang baru Anda baca ini. Biarkan yang ada hanya pena, diri Anda, dan kertas. Kita adalah komik itu sendiri, kita adalah kisah komik itu sendiri, kita jugalah gambaran komik itu. Dan biarkan diri kita menghilang dalam komik, sampai tak tersisa apapun selain komik, tak ada sesiapapun, tak juga Anda. Selamat ngomik!

Minggu, 09 Desember 2007

mo sekedar cerita aja. hehe...
dulu sekali pernah kenal temenan lewat teman dgn orang2 yg bikin acara tv i! music. Gw dah gak tau kabarnya mereka gimana.
dari mereka kenal lagi dgn anak2 yg suka ng-game, ada yg ngajakin bikin sinetron superhero indonesia. Waktu itu gw sempat ngebuat 7 cerita superhero indonesia, entah uda kemana, tp ada satu tokoh yg gue ingat selalu. Namanya Hang Levin, polisi biasa yg merangkap satpam jaga malam.

inspirasi ceritanya dari kisah Hang Tuah dkk, plus batman. gw gak nyiptain dia pake kostum, terlalu amerika. dan mungkin ini yg dinamakan collective imagination (sebelum ini pernah bikin komik yg mirip dgn salah satu puisi joko pinurbo), cerita Hang Levin ini mendekati model serial Heroes dan the Matrix.

Sayangnya ide gue itu ditolak, dgn alasan mereka gak mau ada karakter yg pake polisi sbg tokoh utamanya. takut polisi marah.

kita punya banyak talenta2 yg luarbiasa, tp sayangnya, kebanyakan mereka hidup sbg orang biasa. Ada teman anak solo, sekarang udah kawin dan buka toko distributor tinta cetak. Kakeknya termasuk salah satu tokoh kartunis Indonesia juga. Dulu waktu ada diskusi komik, dia secara tertulis mengkoreksi nama kakeknya yg agak kurang tepat ditulis oleh Marcel Boneff.

Alm. Soebakto, dosen gue yg juga dosen di trisakti. Tamatan Chicago School of Art, tercatat sbg seniman grafis indonesia. meskipun tidak terkenal spt seniman2 lainnya, tp gue punya 2 lbr tulisan pemikiran dia ttg seni dan manusia. Mungkin anak2 trisakti msh ada yg mengenalnya, tidak ada yg luarbiasa dari dirinya, bahkan anak2 kebanyakan juga tidak menganggap dia siapa2. apalagi kalau anak2 komik.
tp beliau mengajarkan sesuatu yg gak diajarkan dosen lain. sesuatu yg gak gue anggap istimewa sama sekali, tp selalu gue inget. susah mengungkapkannya dengan kata2.

Gw baca di concept, si chris dan kawan2 lainnya berharap bisa bekerjasama dgn pihak sinetron utk membuat cerita bareng. mungkin hero/superhero atau apa.

entah kenapa, gw merasa membaca skenario dunia komik kita sptnya akan seperti itu saja. Sekarang ini gw msh belum memutuskan apakah ingin memenuhi cita2 gue punya warung kopi + perpustakaan umum, atau terlibat dgn dunia komik scr total spt Chris.

Gw punya satu anak didik, yg punya potensi, rendah hati, mau belajar, dan menghargai kelebihan teman2nya. Kebanyakan anak2 komik atau desain atau seni, menghargai dirinya sendiri terlalu tinggi. Gw juga punya seorang teman ngajar tp sampingannya ngisi suara aransemen gitar. juga ada teman yg usaha desain grafisnya cukup besar masa depannya, kantornya bareng dgn majalah visual art. Yg belum gue temukan adalah orang yg bisa diajak mikir bareng, mau diapakan semua potensi2 ini, bagaimana mengajak kerjasama semua komponen ini?
gue gak tertarik pada dunia game, animasi, grafis 3D atau pembuatan film2 independen. tp gue tertarik dgn gerakan seni rupa yg konseptual, film2 dokumenter, animasi model tekkonkikreet dan paprika, film2 dgn tema festival dan fantasi.

masalahnya adalah bagaimana menyatukan semua itu dalam satu karya. sebenarnya sederhana saja, gue berniat menjadi seniman total. kendalanya adalah itu artinya gue harus merubah semua bentuk kehidupan sebelumnya. dan gak bisa tiba2 menjadi spt itu, harus membangun dari dasar.

di malaysia, sebelum pulang ke Medan, gw ngadain seminar internal dgn tema ;Adab in art/design practice; isu ini sangat islami sekaligus universal. yg menjadi pembicara dalam seminar internal aka sarasehan itu adalah para profesor dari kampus gue. selanjutnya bulan september nanti akan pameran berjudul ' Drawing Fantasy ', karya2 yg di pamerkan gw berharap datang dari berbagai jenis media. konsepnya adalah 'image textuality' atau 'tekstualitas citra'.

kalau ditanya utk apa gue melakukan itu semua, jawabannya sederhana, karena Tuhan uda ngasi kesempatan gue hidup jadi manusia. Lucu, kenapa? karena waktu ditanya apa yg gue harapkan dari kegiatan2 itu, gw cuma bisa menjawab,"Iseng aja, bosen kalo gak ngapa2in."

Mungkin karena gue orangnya mudah bosenan, maka gue suka iseng bikin apa yg bisa gue kerjain. Jadi, sekarang ini gw lagi demen nulis, tp nulis ilmiah itu susahnya minta ampun. Bayangin aja kalo elu harus mencurigai tulisan elo sendiri, mencurigai motivasi tulisan elo sendiri, mengkritisi tulisan sendiri, capek... tp kalo ditanya ngapain bikin, jawabnya...

,"Iseng aja, bosen juga kalo gak ngapa2in..."