Minggu, 07 Januari 2007

Senin, 01 Januari 2007

Komik si Seni ke-9 ?

Komik = Seni kesembilan

(baru aja mau nulis, tau -tau nyari-nyari data yg ilang, e eh malah muter-muter di dalam internet)

Begini, pertama kali nemu istilah seni kesembilan itu ada di tulisan Marcel Boneff di buku hasil kajian penyelidikan Komik Indonesia (hal. 3), dimana ia sebutkan nama Francis Laccasin.
Rupanya di milist comix-scholars sudah pernah ada yang mendiskusikannya, salah seorang pesertanya, Glen, memuat hal itu disitusnya. Dalam susunannya ditulis:
  1. architecture
  2. music
  3. painting
  4. sculpture
  5. poetry
  6. dance
  7. cinema
  8. television
  9. comics
Sekitar tahun 1920-an, Ricciotto Canudo pendiri “Club DES Amis du Septième Art”(salah satu klub sinema Paris yang awal), seorang teoritikus film dan penyair dari Italia inilah yang mengutarakan urutan 7 kesenian di salah satu penerbitan klub tersebut tahun 1923-an. Kemudian pada tahun 1964 Claude Beylie menambahkan televisi (atau radiovision hehe...) sebagai yang kedelapan, dan komik berada tepat dibawahnya, seni kesembilan. Jauh sebelumnya, G.W.F. Hegel pada bukunya 'Lecturer on Aesthetics' yang merupakan kumpulan catatan sejak tahun 1818 hingga 1886-an pernah membahas karya-karya seni ke dalam urutan sebagai berikut: Architecture (arsitektur), Sculpture (patung), Painting (lukisan), Music (musik), dan Poetry (puisi).

Ceritanya begini, Thierry Groensteen, teoritikus dan pengamat komik yang akan segera diterbitkan buku komik, eh, tentang kajian komiknya tahun 1999 berjudul "Système de la bande dessinée (Formes sémiotiques)" diterjemahkan tahun 2007 menjadi "The System of Comics", berbicara soal 'penemuan' terminologi 'Ninth Art' atawa Seni keSembilan dalam pengantar edisi pertama majalah 9e Art di Perancis. Menurutnya, yang pertama kali menggunakan istilah itu adalah Claude Beylie, dia menulis judul artikel, "La bande dessinee est-elle un art?", dan seni kesembilan itu disebut pada seri kedua dari lima artikel di majalah "Lettres et Medecins", yang terbit sepanjang Januari sampai September 1964.

Jadi, baru pada tahun 1971, si F. Laccasin menuliskan komik sebagai seni kesembilan di majalah (atau buku?) "Pour un neuvieme art", sebagaimana yang dikutip oleh Boneff (1972). Ketikan ini cuma melengkapi bagian dari tulisan Hikmat Darmawan dan tim Visual Art pada edisi 16 halaman 18, paragraf ke empat,"...Di negeri Asterix itu, komik (atau bandee dessinee) telah sejak akhir 1960-an didaku sebagai 'seni kesembilan'..."

Referensi:
Atmowiloto, A. (1982). Komik dan Kebudayaan Nasional. Majalah Analisis Kebudayaan, Tahun ke II, Nomor 1, 1981-82, hal. 109-120. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Boneff, M., 1998. Komik Indonesia. Jakarta: KPG
http://www.editionsdelan2.com/groensteen/Systemebd/Systemebd.html
http://www.engel-cox.org/textvision/comics_is_the_ninth_art.html
http://www.fumetti.org/goria/scrivere/002.htm
http://www.sequart.com/SequentialCulture19.htm