Minggu, 12 Juli 2015

karena....Pondok Berdikari Belajar Seni Desain Rupa

{reposted from facebook's note}

mm... jadi begini ~
Rupiah kian melemah,
karena itu maafkan dosen-mu ini, Nak,
karena mulai saat ini kalian harus meng-update sendiri pengetahuan dan keilmuan desain yang ada lewat internet dan pdf buku-artikel berbayar maupun yang ilegal.
karena dosen-mu ini tidak mungkin lagi membeli buku-buku baru, apalagi artikel jurnal dan jurnal baru (baik yang online maupun printed),
karena dengan gaji yang tidak menyeimbangi pelemahan rupiah, mustahil bisa menahankan badan untuk tetap membeli sumber rujukan baru dari luar, sementara itu sumber rujukan dari dalam negeri masih menjadi tanda tanya, koma, dan seru-seru-an.
karena kondisi ini, maka dosen-mu ini terpaksa harus kembali menjual keahlian gambar dan desainnya untuk mencari duit tambahan bagi keluarganya sendiri.


tapi,
karena itu pulalah, dosen-mu terpikir, bahwa mungkin koleksi bebuku yang tak seberapa miliknya masih bisa dimanfaatkan, akan tetapi, mohon maaf,
karena kebutuhan finansial maka untuk sementara tidak mungkin di-gratisin.karena itu dosen-mu terpikir, kalau ada sejumlah mahasiswa yang membutuhkan referensi buku, atau artikel jurnal, barangkali koleksi minor milik pribadinya ini bisa di-kapitalisasi-kan.
karena dengan kapitalisasi, maka dimungkinkanlah peluang untuk memodali pembelian buku-buku, jurnal-jurnal, dan artikel-artikel yang lebih lengkap atau baru.
karena dengan kompensasi modal itu, maka ilmu dan metode praktis bisa disumbangkan secara gratis sebagai bentuk konsultasi informal oleh dosen-mu ini.
karena ini adalah konsultasi, atau tepatnya advokasi desain grafis, ilustrasi dan komik yang informal, tentu obyektif-nya bukan menggol-kan proyek tugas-tugas yang diinginkan si mahasiswa,
karena itu juga bukan bermaksud agar si mahasiswa meraih ponten (nilai markah) A atau A+ dari tugas-tugas yang di-konsultasikan.
karena dana dan modal yang terkumpul dari keanggotan, partisipan, dan kolaborasi adalah untuk hal yang tangible, yaitu bebuku, jurnal, majalah, dan artikel.


Sedangkan ilmu, pengetahuan dan metode praktis diberikan sebagai sesuatu yangintangible, sesuatu yang priceless, karena itu gratis.
Barangkali pula, kakak-kakak senior bisa bermurah hati ikut membantu memberikan advokasi belajar desain komunikasi visual kepada adik-adik juniornya.

Jadi begitu, mohon doa-nya agar terbuka jalan bagi dosen-mu ini untuk mulai merealisasikan 'Pondok Berdikari Belajar Seni Desain Rupa' dengan segala kesederhanaan, keterbatasan dan kerendahan hati.


Salam,

Karna [M]